"Don't worry if you can’t do great things.. just do small things in a great way"

5 Pesepakbola Miskin yang Menjadi Bintang Top Dunia


Sebagai seorang pesepak bola top dunia memang terkenal dengan kehidupan yang mewah. Pemain-pemain bintang memiliki kekayaan berlimpah dapat membeli apapun yang mereka inginkan.

Namun siapa sangka jika pemain top dunia yang memiliki kekayaan dan nama populer tersebut memiliki masa di mana hidup dari garis kemiskinan. Mereka harus berjuang hidup untuk menggapai cita-cita.

Dengan perjuangan keras, pemain top dunia yang dulunya miskin, sekarang menjadi seorang kaya raya. inilah 5 pesepak bola miskin dunia yang berhasil keluar dari kemiskinan dan menjadi bintang top dunia dari beberapa sumber, siapa saja mereka?

Pele (Brasil)

Pemain bernama lengkap Edson Arantes Do Nascimentoyang lahir tanggal 23 Oktober 1940 itu adalah legenda terbaik dunia asal Brasil. Ia berasal dari keluarga yang amat miskin di Tres Coracos, Brasil.

Pelé memulai karier sepak bola saat masih remaja dan bermain untuk liga lokal (klub kecil di Brasil). Selain bermain sepak bola, dia juga bekerja sampingan menyemir sepatu untuk mendapatkan uang.

Bakat Pele pertama kali ditemukan oleh mantan pemain Brasil Waldemar de Brito. Kala itu usia Pele baru menginjak 11 tahun. Brito membawa Pelé ke Sao Paulo dan meyakinkan direktur tim profesional di Santos

“Anak ini akan menjadi pemain sepak bola terbesar di dunia,” Ujar Brito.

Menginjak usia 15 tahun Pele mulai direkrut ke klub Santos. Cukup satu tahun ia langsung mengawali debut di Santos dengan sebuah gol saat klubnya bertemu Corinthians, September 1956. Kala itu publik sepakbola Brasil menyakini bahwa legenda sepak bola dunia dari negaranya telah lahir.

Lionel Messi (Argentina/Barcelona)

Pemain bernama lengkap Lionel Andrés Messi yang lahir pada 24 Juni 1987 di Rosario, Argentina itu berasal dari keluarga miskin dengan orang tua Jorge Horacio Messi, seorang pekerja pabrik baja, dan Celia María Cuccittini sebagai pembersih paruh waktu.

Messi memula karier sepakbolnya di Grandoli, sebuah klub lokal dilatih oleh ayahnya Jorge pada tahun 1995. Selanjutnya Messi beralih ke Old Boys Newell itu yang berbasis di rumahnya kota Rosario.

Nasib pahit menerpa bintang Barcelona itu pada usia 11, ia didiagnosa kekurangan hormon pertumbuhan. Kala itu tim yang berminat untuk merekrut, River Plate tidak punya cukup uang untuk membayar pengobatan yang biayanya sekitar 900 dolar AS per bulan.

Namun tidak lama kemudian, Messi mengalami keberuntungan setelah Carles Rexach, direktur olahraga dari FC Barcelona melihat bakat yang dimiliki Messi dan menawarkannya kontrak tertulis.


FC Barcelona menawarkan pelunasan tagihan medis Messi jika ia bersedia pindah ke Spanyol. Dan tidak menyia-nyiakan kesempatan Messi ditemani ayahnya menuju Barcelona.

Luis Suarez (Uruguay/Barcelona)

Pemain bernama lengkap Luis Alberto Suárez Díaz yang lahir di Salto, Uruguay, 24 Januari 1987 itu ternyata memiliki hidup kemiskinan di masa kecilnya. Bintang Barcelona itu pernah merasakan kelaparan bersama ibu dan enam saudara kandungnya.

Suarez dibesarkan oleh ibunya sendiri. Hidupnya benar-benar susah dan miskin. Ada saat-saat ketika keluarganya tak tahu dari mana harus mendapatkan makanan.

Saat bermain sepak bola pun Suarez kecil harus bermain tanpa sepatu karena sang ibu kala itu tak mampu membelikannya sepatu bola.

Bahkan, ketika usia 11 tahun dan mendapat undangan dari akademi Asosiasi Sepak Bola Uruguay, Suarez tidak bisa menerimanya karena tak punya satu pasang pun sepatu bola.

”Ya, itu benar. Ketika masih kecil, aku harus berjuang untuk segalanya. Aku ingat dari waktu ke waktu bermain tanpa sepatu. Benar-benar sulit tumbuh seperti itu. Kami sebuah keluarga besar dan tidak memiliki cukup uang. Itulah mengapa kini aku mengerahkan segalanya saat di lapangan,” ungkap Suarez.


”Sangat sulit bagiku sebagai seorang anak kecil untuk menjadi pebola di Uruguay. Aku harus mengorbankan banyak hal untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Sekarang, aku tak mau melewatkan peluang apa pun yang ada di hadapanku. Itulah mengapa aku selalu bekerja keras di lapangan,” lanjutnya.

Luka Modric (Kroasia/Real Madrid)

Pemain Real Madrid ini lahir di Zadar, Yugoslavia, 9 September 1985 itu dibesarkan di tengah perang saudara yang pecah di Yugoslavia pada 1991. Kondisi yang membuat Modric kecil sempat mengalami hambatan besar untuk meniti kariernya di sepak bola.

Modric berasal dari keluarga miskin, dari ayah seorang serdadu yang terdaftar di angkatan darat Kroasia. Tak pelak, sejak kecil Modric lebih sering menghabiskan waktu bersama sang ibu, dan memilih tinggal di Hotel Kolovare di Zadar.

Setelah menjauh dari daerah konflik, Modric kecil pun mulai dapat bebas bermain sepak bola. Hari-harinya pun tak pernah lepas dari si kulit bundar.

“Dia bermain (sepak bola) sepanjang hari dan memecahkan jendela dengan bolanya lebih sering daripada bom perang,” kenang salah satu resepsionis hotel.

Saat usianya menginjak delapan tahun, Modric mulai mencuri perhatian pemandu bakat salah satu klub besar Kroasia, Hajduk Split. Sayangnya, hanya dua pekan dia menimba ilmu di Hajduk sebelum dilepas kembali.

Dia kembali ke Zadar bersama ibunya. Dengan kondisi ekonomi seadanya, keluarga Modric berusaha bertahan hidup. Sebelum takdir mempertemukan Modric dengan Tomislav Basic, kepala tim muda Zadar, saat usianya menginjak 10 tahun.

“Mereka sangat miskin. Mereka tidak punya uang untuk baju atau shinpads untuk Luka. Jadi, saya membuatkannya shinpads dari kayu. Saat ini, shinpads itu masih ada. Saya menyimpannya karena tahu, kelak Modric akan menjadi pemain hebat,” kenang Basic.

Basic sendiri mengungkapkan, Modric paling tak suka mengenang masa lalunya. Terlebih masa kanak-kanak dilaluinya dengan cukup berat, sebelum ayahnya kembali dari peperangan.

“Memang benar, kadang-kadang Luka keberatan mengingat itu semua. Tapi saya pikir itu bagian dari hidupnya dan dia harus bangga dengan dari mana ia berasal,” ujar Basic.

Hampir sepanjang hidupnya Modric paling ogah menceritakan kisah hidupnya kepada publik. Hanya beberapa kalimat sempat terlontar dari mulutnya soal kehidupan masa kecilnya.

“Perang membuatku lebih kuat. Itu adalah waktu yang sangat sulit buatku dan keluarga. Aku tidak ingin menyimpan kisah itu selamanya, tapi aku tidak ingin melupakannya. Sekarang, aku memiliki keyakinan siap menghadapi apapun,” tutur Modric.

Setelah beberapa kali berganti sekolah, pada 2003 Modric akhirnya direkrut Dinamo Zagreb, klub yang mengangkat derajatnya pada usia 16 tahun. Akan tetapi, perang membuatnya menderita lagi.

Luka harus menghabiskan satu tahun wajib militer. Dia pergi ke Mostar, bersama tentara Spanyol membantu membangun kembali daerah tersebut.

Di tengah wajib militer itu, Modric sempat bermain pad musim itu di Liga Bosnia (HŠK Zrinjski Mostar). Di sana, dia tampil memukau dan menjadi pemain terbaik.

Musim berikutnya, Modric menjalani masa peminjaman di NK Inter Zaprešić, Zagreb. Hingga manajer asal Spanyol, Juande Ramos pun mulai kempincut dengan talenta Modric, hingga berani menggelontorkan dana 22 juta euro untuk membawanya ke Tottenham.

Karier Modric pun melesat. Kehidupannya tak lagi melarat seperti saat kecil dulu. Sekarang Modric bisa menikmati kekayaan yang diperoleh dari perjuangannya mengais mimpi di lapangan hijau.

Berkat perang, Modric menjadi kuat. Tubuhnya memang kecil, namun semangat juang telah mengantarkan Modric berlabuh di salah satu klub impiannya, Real Madrid.

Mario Balotelli (Italia/Liverpool)

Pemain yang terkenal kontroversial ini lahir di Palermo, Italia, 12 Agustus 1990 berasal dari orang tuah pasangan imigran asal Ghana, Thomas dan Rose Barwuah.

Pada tahun 1993, saat Mario berusia 3 tahun, keluarga Barwuah setuju anaknya diadopsi oleh keluarga Italia Balotelli. Setelah balotelli diadopsi kehidupan financialnya memang lebih baik. Adopsi ini resmi disahkan oleh pengadilan Brescia, dan Mario pun berhak menggunakan nama keluarga Balotelli di belakang namanya.

Namun, ia baru mendapatkan kewarganegaraan Italia pada 13 Agutus 2008 atau setelah ia berusia 18 tahun. setelah mencapai kesuksesannya, ternyata kehidupan mewah Mario Balotelli bertolak belakang dengan kehidupan ibu kandungnya.

Rose Barwuah, nama ibu kandung Balotelli, masih hidup sangat sederhana dengan gaji pas-pasan sebagai seorang petugas kebersihan di sebuah kawasan di Manchester. Seperti dilansir The Mirror, Rose Barwuah, hanya bergaji enam poundsterling atau sekitar Rp75 ribu per jam.



Sumber: http://m.sepakbola.com/

Baca Juga:

Admin : Ghani Hendrika ~ Natuna In My Soul

Ghani Hendrika Sobat sedang membaca artikel tentang 5 Pesepakbola Miskin yang Menjadi Bintang Top Dunia. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan menyebar-luaskan artikel ini, Namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya. Saya tunggu ucapan terimakasihnya di komentar :))
Title : 5 Pesepakbola Miskin yang Menjadi Bintang Top Dunia
Description : Sebagai seorang pesepak bola top dunia memang terkenal dengan kehidupan yang mewah. Pemain-pemain bintang memiliki kekayaan berlimpah da...

0 Response to "5 Pesepakbola Miskin yang Menjadi Bintang Top Dunia"

Poskan Komentar